Jumat, 06 Juni 2008

SINDROMA MARFAN

Sindroma marfan ( Marfan Syndrome ) adalah suatu penyakit yang diakibatkan kelainan genetika dan melibatkan beberapa organ tubuh antara lain mata, jantung, tulang dan persendian serta paru-paru.




Penyakit ini diduga sudah dikenal sejak jaman Mesir kuno, terlihat dari adanya beberapa pahatan batu pada dinding piramid yang menggambarkan orang yang menderita Sindroma Marfan.
Penyakit ini diderita baik pada laki-laki maupun wanita dan dapat ditemukan pada masa bayi, anak-anak maupun dewasa, frekwensi di Amerika Serikat sekitar 1 : 5000.


Dr Antoine Marfan pada tahun 1896 menemukan seorang anak berusia 5 tahun dengan kelainan berupa tungkai dan jari jemari yang panjang serta kelainan tulang lainnya, sejak saat itu kelainan ini disebut dengan Sindroma Marfan.



Pada perkembangan berikutnya ternyata kelainan yang ditemukan tidak hanya pada tulang namun juga pada :
Kepala yaitu wajah yang memanjang dan gigi yang tidak beraturan.
Jantung dan pembuluh darah, dimana terjadi pemanjangan aorta ( pembuluh darah terbesar pada tubuh ) yang berada di jantung. Pada Sindroma Marfan tipe berat, dapat terjadi kebocoran pembuluh darah yang dapat memasuki rongga dada dan perut sehingga menimbulkan kematian mendadak.



Katup jantung, yang dapat mengakibatkan gangguan irama jantung dan gangguan aliran darah dalam tubuh.
Paru-paru, dimana dapat terjadi pengempisan ( collapse ) yang mendadak ( pneumothorax spontan ) sehingga menimbulkan sesak napas.



Mata, terjadi pelepasan sebagian otot penggantung lensa mata ( subluxatio lentis ) pada satu atau kedua mata. Juga dapat timbul Katarak, Glaukoma, Minus yang tinggi dan lepasnya retina ( Ablatio Retina ) yang dapat menimbulkan kebutaan mendadak.



Antisipasi kelainan mata pada penderita Sindroma Marfan.
Kelainan mata berupa minus tinggi dapat diatasi dengan pemberian kacamata yang cukup tebal.
Adanya Katarak dan Glaukoma dapat diatasi dengan operasi sedini mungkin untuk mencegah gangguan penglihatan.
Sedangkan untuk mencegah lepasnya Retina dapat dilakukan penyinaran dengan laser pada daerah tepi retina.
Pasien Sindroma Marfan sebaiknya melakukan pemeriksaan rutin ke spesialis mata 1 tahun sekali untuk mencegah timbulnya komplikasi.
Berikut ini adalah sebuah kasus yang ditemukan pada saat pemeriksaan mata anak-anak tidak mampu di Sekolah Dasar di 5 wilayah Kota Bogor pada bulan Juni 2008.

Ditemukan seorang anak laki-laki berumur 10 tahun kelas 3 Sekolah Dasar. Tungkai atas dan bawah panjang, persendian membesar dan muka memanjang. Bila olah raga sering merasa sesak dan wajah menjadi kebiruan.





Pada pemerikaan mata ditemukan penglihatan yang buruk sehingga harus memakai kacamata setebal minus 20 dioptri, lensa mata terlepas sebagian namun retina masih normal.
Pasien ini sedang diperiksa oleh bagian lain untuk mencari kelainan di organ tubuh yang lain ( paru-paru dan jantung ).



Umur harapan hidup seseorang dengan Sindroma Marfan ini cukup panjang, dapat mencapai 70 tahun dan tidak mempengaruhi intelegensia.
Hal ini terbukti pada Abraham Lincoln yang pernah menjadi presiden Amerika Serikat pada usia tua dan ternyata adalah penderita Sindroma Marfan.

Hidajat Nerviadi Iksan, Bogor Medical Center dan RS Karya Bhakti Bogor

Kamis, 15 Mei 2008

LASIK, tindakan canggih untuk mata minus

OCULUS REPARO…! Itulah mantra yang diucapkan oleh Hermione dan seketika penglihatan Harry Potter menjadi jelas tanpa kacamatanya.


Penglihatan yang normal merupakan dambaan semua orang, namun pada kenyataannya banyak orang yang mengalami gangguan penglihatan dan harus dibantu dengan kacamata untuk dapat melihat dengan jelas.


Pada umumnya gangguan yang timbul adalah rabun jauh yang harus dikoreksi dengan kacamata minus. Semakin berat gangguan penglihatan, maka kacamatapun akan semakin tebal dan ini dapat menimbulkan rasa tidak nyaman dan mengganggu aktifitas sehari-hari karena beratnya.
Untuk para selebritis yang selalu harus tampil didepan umum, kacamata minus ini dapat mengganggu penampilan sehingga mereka memakai lensa kontak sebagai penggantinya.

Dengan teknologi canggih, kini orang yang memakai kacamata minus tebal bisa terbebas dari kacamata dan lensa kontak yaitu dengan LASIK.
LASIK ( Laser ASsisted In-situ Keratomielusis ), adalah suatu tindakan untuk merubah bentuk kelengkungan kornea dengan sinar Laser sehingga bisa mengoreksi rabun jauh.

LASIK generasi pertama diperkenalkan 10 tahun yang lalu dan dilakukan dengan cara membuka lapisan kornea paling luar dengan pisau yang sangat halus, kemudian dilakukan penyinaran dengan Laser pada sebagian lapisan kornea kornea dibawahnya.
Setelah prosedur selesai, lapisan kornea paling luar dikembalikan pada posisi semula. Karena ada bagian kornea yang “ dikupas “ maka pada prosedur ini dapat timbul komplikasi akibat pengupasan lapisan kornea yang kurang tepat, penempatan kembali lapisan kornea tidak pada
tempatnya atau lapisan tersebut bergeser karena tergosok oleh pasien.



Saat ini telah ditemukan LASIK yang lebih canggih yaitu iLASIK ( intralase LASIK ). Tindakan ini telah disetujui pada tahun 2007 oleh Badan Nasional Ruang Angkasa Amerika ( NASA ) dan dilakukan pada pilot pesawat tempur Amerika. Pada iLASIK pengupasan lapisan kornea dilakukan dengan bantuan sinar Laser sehingga didapatkan presisi yang sangat tinggi dan memberikan hasil yang lebih akurat.



Tidak semua pemakai kacamata tebal dapat menjalani tindakan ini, penderita dengan kelainan lapisan kornea, glaukoma, mata kering tidak dianjurkan untuk dilakukan tindakan Lasik.
Adapun syarat untuk dapat menjalani tindakan Lasik antara lain, umur diatas 18 tahun, tidak terdapat perubahan ukuran kacamata minimal dalam 6 bulan, tidak sedang hamil, tidak sedang menderita kencing manis yang tidak terkontrol.

Tindakan Lasik pada umumnya dilakukan bersamaan pada kedua mata.
Keluhan yang sering timbul setelah tindakan ini antara lain, mata pedih, berair, seperti ada pasir dan berkabut yang akan hilang secara berangsur-angsur.
Tindakan Lasik ini dilakukan dengan bius lokal/tetes dan hanya memerlukan waktu 15 sampai 30 men
it !


Dalam 1 sampai 6 jam hasilnya akan segera terlihat dan pasien tidak perlu memakai kacamata lagi…OCULUS REPARO !


Hidajat Nerviadi Iksan, Bogor Medical Center dan
RS Karya Bhakti Bogor

Rabu, 14 Mei 2008

OPERASI KATARAK, perkembangannya dari masa ke masa

Katarak adalah kekeruhan pada lensa yang semula jernih/transparan akibat berbagai sebab antara lain : proses degenerasi, kelainan bawaan, penyakit sistemik atau trauma.
Lensa adalah salah satu bagian dari bola mata yang terdiri dari kapsul/kulit dan inti , berfungsi untuk menyalurkan sinar yang masuk dari luar ke dalam bola mata yang selanjutnya akan diolah oleh saraf mata.


Apapun penyebabnya, lensa yang sudah keruh ini harus dibuang dengan cara operasi karena dapat menimbulkan berbagai komplikasi dan menimbulkan kebutaan.
Sejak ribuan tahun yang lalu, penyakit katarak ini telah diketahui oleh ahli-ahli kesehatan pada jaman itu, bahkan nama katarak ( cataract dalam bahasa inggris ) adalah berasal dari bahasa Yunani yaitu kataraktes .
Seorang tabib Yunani bernama Galenus dilaporkan telah melakukan operasi katarak dengan cara mengeluarkan lensa yang telah keruh tersebut. Bahkan ada tabib lain yang melakukannya dengan “ menenggelamkan “ lensa yang keruh kedalam bola mata ( corpus vitreus ) sehingga pasien dapat melihat kembali walaupun dengan jarak yang tidak terlalu jauh.

METODE.
Dengan perkembangan jaman dan bertambahnya pengetahuan maka didapatkan berbagai metode operasi katarak.
Metode pertama di abad ke 20 adalah Intra Capsular Cataract Extraction, yaitu metode operasi katarak dengan mengeluarkan seluruh bagian lensa ( kapsul dan intinya ).
Metode ini sekarang sudah ditinggalkan karena pasien harus memakai kacamata yang sangat tebal, menimbulkan banyak komplikasi dan hanya dilakukan pada keadaan terjadi katarak karena trauma.

Metode kedua adalah Extra Capsular Cataract Extraction, yaitu metode operasi dengan cara mengeluarkan inti lensa secara utuh dan meninggalkan kapsul bagian belakang. Metode ini dilakukan dengan ditemukannya alat untuk menghisap sisa-sisa lensa yang tertinggal, sehingga dapat dilakukan dengan sayatan kornea yang kecil.
Metode ini sampai sekarang masih banyak dilakukan dengan berbagai modifikasi.


Dengan ditemukannya Lensa Intra Okular ( Intra Ocular Lens ), metode operasi ini menjadikan pemasangan Lensa intra okular menjadi lebih mudah dan cepat.


Metode ketiga adalah Phacoemulsifier ( fakoemulsifikasi ), yaitu metode terbaru dan tercanggih saat ini walaupun sudah dilakukan pada 2 dekade yang lalu namun selalu ditingkatkan kecanggihannya.


Operasi katarak dengan metode ini dilakukan dengan cara menghancurkan inti lensa yang telah keruh dengan cara manual maupun emulsifikasi sehingga lensa menjadi partikel partikel yang sangat halus kemudian dihisap dan dikeluarkan.
Karena kecanggihannya, maka alat-alat yang digunakanpun sangat kecil, sehingga sayatan yang dilakukan pada korneapun juga kecil.
Dengan metode ini pasien menjadi lebih nyaman dan penyembuhan juga lebih cepat, namun masih ada kendala biaya karena operasi dengan metode ini jauh lebih mahal, dan belum semua Rumah Sakit mempunyai alat ini karena mahalnya.
Karena ketidak tahuan atau sudah salah kaprah, maka metode ini sering disebut oleh pasien dengan metode LASER , padahal tidak ada sinar Laser yang digunakan untuk operasi dengan metode ini.
PEMBIUSAN.
Operasi katarak pada umumnya dilakukan dengan pembiusan lokal, kecuali pada bayi, anak-anak atau dewasa yang tidak kooperatif.
Metode pembiusan lokalpun berubah dengan perkembangan jaman.
Dahulu pembiusan pembiusan lokal dilakukan dengan menyuntikan cairan anastesi dibelakang bola mata, kemudian berkembang dengan penyuntikan disekitar bola mata atau dibawah selaput bola mata.
Saat ini telah dilakukan metode pembiusan dengan penetesan cairan bius di kornea mata, namun perlu beberapa kali penetesan karena waktu kerja obat yang singkat.

LAMA OPERASI dan WAKTU PENYEMBUHAN.
Dengan semakin pesatnya perkembangan alat dan teknologi operasi katarak, waktu operasipun bertambah singkat, dahulu operasi katarak dapat memakan waktu 1 jam, saat ini dengan alat-alat yang canggih operasi katarak dapat diselesaikan rata-rata dalam 15 sampai 20 menit saja.
Dahulu setelah operasi katarak, pasien diharuskan rawat di Rumah Sakit, selama 1 bulan tidak boleh banyak bergerak, mata terasa mengganjal selama beberapa bulan karena besarnya benang untuk menjahit kornea.
Saat ini setelah operasi pasien dapat segera pulang, namun aktifitas tetap dibatasi, terutama dilarang kena air dan membungkukkan badan kurang lebih dalam waktu 1 minggu.
Pasien dapat segera beraktifitas dan lebih merasa nyaman karena, luka operasi semakin kecil, benang untuk menjahit luka operasi semakin halus, lebih halus dari rambut sehingga sulit untuk dilihat. Bahkan pada operasi dengan metode operasi terbaru, luka operasi sangat kecil sehingga tidak memerlukan penjahitan.

Perkembangan teknik operasi katarak semakin pesat, namun diikuti pula dengan semakin mahalnya biaya operasi, karena mahalnya peralatan.
Untuk itu metode Extra Capsular Cataract Extraction masih dilakukan sampai saat ini karena tidak memerlukan peralatan yang sangat canggih namun tetap dapat memberikan hasil yang cukup baik dan bagi yang mampu dapat memilih metode Phacoemulsifier.
Hidajat Nerviadi Iksan, Bogor Medical Center dan
RS Karya Bhakti Bogor

Senin, 28 April 2008

AGE RELATED MACULAR DEGENERATION




Age Related Macular Degeneration ( AMD ), adalah kelainan pada mata berupa proses degenerasi pada makula lutea ( bagian dari saraf mata yang berfungsi untuk penglihatan sentral ).






Kelainan ini pada umumnya terjadi pada 10% orangtua diatas 60 tahun dan frekwensinya makin bertambah seiring dengan bertambahnya umur.
Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 70% penderita dengan kelainan ini akan mengalami kebutaan.



Gejala utama kelainan ini adalah adanya bercak hitam yang menghalangi penglihatan.
Adanya bercak ini menyebabkan penderita melihat ada sesuatu yang menutup/mengganggu obyek yang dilihat, antara lain dapat berupa perubahan bentuk garis menjadi bengkok, atau televisi tidak terlihat gambarnya, atau wajah tidak terlihat mata, hidung dan lain lain atau bahkan wajahnya samasekali tidak terlihat, hanya kepalanya saja.


Penyebab kelainan ini adalah kerusakan pada pusat penglihatan sentral mata di retina akibat adanya kerusakan pada sistim pembuangan sel-sel saraf yang telah mati.






Mengapa tidak semua orang tua menderita kelainan ini ?
Beberapa kondisi atau penyakit yang berhubungan dengan kelainan ini antara lain : jenis kelamin, dimana wanita lebih banyak terserang daripada laki-laki, adanya penyakit tekanan darah tinggi, hiperkholesterol, obesitas, perokok , kekurangan nutrisi dan adanya riwayat penyakit yang sama dalam keluarga.

Pada jaman dahulu, kaburnya penglihatan ini dianggap penyakit tua karena belum adanya alat dan tindakan yang canggih untuk mengatasinya.
Sekarang kelainan ini dapat dideteksi dengan mudah, namun masih terbatas di kota-kota besar saja karena mahalnya alat.

Bagaimana mengatasinya ?
Pengobatan untuk kelainan ini masih menjadi kendala karena harga obat yang sangat mahal.
Obat ini berupa cairan yang disuntikkan kedalam bola mata setiap b
ulan selama 3 bulan dengan harga obat sekali suntik sekitar 15 juta !
Sehingga untuk di Indonesia, pengobatan ini hanya untuk orang-orang yang mampu saja sedangkan kelainan ini menyerang siapa saja baik kaya atau miskin.
Selain
dengan obat, dapat juga dilakukan tindakan Laser untuk mencegah terjadinya kerusakan lebih lanjut.
Diluar negeri juga telah dilakukan operasi untuk kelainan ini, berupa pengangkatan jaringan sistim pembuangan saraf yang rusak, namun hal ini memerlukan ketelitian yang sangat tinggi sehingga tidak terangkat jaringan yang masih bagus dan justru menimbulkan kebutaan
.

Pencegahan lebih penting daripada pengobatan.


Hal ini dapat dilakukan dengan mencegah terjadinya penyakit-penyakit diatas, mengurangi makanan berlemak dan mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung komponen-komponen yang berguna bagi saraf mata, terutama sayur dan buah-buahan.
Atau dapat juga mengkonsumsi suplemen yang komposisinya terdiri dari bahan-bahan yang berguna bagi saraf mata terutama untuk orang tua antara lain yang mengandung vitamin C, vitamin E dan betakaroten.



Marilah kita menjadi tua dengan mata yang tetap berkualitas !


Hidajat Nerviadi Iksan, Bogor Medical Center
dan RS Karya Bhakti Bogor





Jumat, 25 April 2008

COMPUTER VISION SYNDROME

Seperti kata Tukul :…kembali ke laptop !
Kata-kata ini merupakan manifestasi bahwa penggunaan komputer atau laptop dilingkungan kerja atau rumah sudah merupakan hal yang biasa dan sudah menjadi bagian dari kehidupan kita.



Penggunaan komputer disamping terbukti meningkatkan produktivitas dan efisiensi kerja namun tern
yata juga dapat menimbulkan gangguan kesehatan khususnya mata. Melihat besarnya penggunaan komputer dalam kehidupan manusia, tentu perlu suatu cara untuk mengantisipasi efek negatif yang dapat ditimbulkannya.

Computer Vision Syndrome ( CVS ), adalah salah satu bentuk dampak negatif akibat pemakaian komputer atau Video Display Terminal ( VDT ).
Kelainan ini berupa sekumpulan gejala atau sindroma baik yang berhubungan dengan mata atau tidak, setelah bekerja didepan komputer.
Secara awam dapat dikatakan ada 3 mekanisme yang berkaitan yaitu perubahan permukaan mata, perubahan mekanisme akomodatif dan perubahan yang tidak berkaitan dengan mata.

Gejala CVS yang berhubungan dengan mata adalah kelelahan dan ketegangan mata, mata kering dan penglihatan buram, sedangkan yang tidak berhubungan dengan mata antara lain sakit kepala, nyeri leher dan punggung.
Gejala CVS terjadi pada 75% pengguna komputer selama 6 sampai 9 jam sehari dan 9 sampai 12% diantaranya datang ke spesialis mata.

Penyebab perubahan permukaan mata berupa mata terasa kering atau berpasir antara lain adalah faktor lingkungan seperti penggunaan penyejuk udara, kipas angin, debu, penurunan refleks kedip, penyakit sistemik, penggunaan obat-obatan dan penggunaan lensa kontak.

Perubahan mekanisme akomodatif timbul karena huruf pada layar komputer sangat berbeda dengan teks pada kertas karena terbentuk dari titik-titik kecil yang tersusun dan membentuk huruf atau angka yang disebut pixels.
Telah dibuktikan bahwa mata lebih sulit fokus pada tulisan ini sehingga mata akan berakomodasi terus menerus agar tulisan menjadi jelas,akibatnya timbul kelelahan otot mata.
Akomodasi yang terus menerus pada jarak dekat diduga ikut berperan sebagai penyebab timbulnya mata minus, namun belum ada literatur yang menyatakan bahwa pengguna komputer memiliki resiko lebih tinggi dibandingkan dengan yang bukan pengguna komputer.

Perubahan yang tidak berkaitan dengan mata timbul karena gangguan tajam penglihatan mempengaruhi organ tubuh yang lain seperti otot.
Pengguna komputer yang melihat tulisan tidak jelas pada monitor komputer memicu pergerakan kepala, leher dan bahu kedepan yang pada akhirnya akan menimbulkan nyeri otot.

Karakteristik komputer juga berpengaruh pada penglihatan, antara lain kualitas display, makin tinggi resolusi layar komputer maka huruf atau gambar akan makin tegas sehingga mata akan lebih jelas melihat tanpa akomodasi yang berlebihan, demikian juga karakter tulisan yang berwarna gelap dengan latar yang lebih terang akan menambah kenyamanan dan mengurangi kelelahan mata.

Pencahayaan yang kurang baik atau terlalu terang dapat menimbulkan efek silau sehingga karakter huruf atau gambar pada layar monitor menjadi kabur.
Layar komputer menghasilkan sinar alfa, beta dan sinar x dan radiasi ion telah diketahui dapat mengg
angu stabilitas sel tubuh dengan cara merusak ikatan kimia sehingga dapat mempengaruhi stabilitas sel-sel saraf mata,

Untuk mengatasi CVS diperlukan pendekatan multisektoral sesuai dengan keluhan yang bervariasi.
Pencahayaan yang tepat pada ruang kerja akan menghasilkan kenyamanan sehingga dapat mengurangi kelelahan mata. Pemberian filter anti silau tidak akan mengurangi gejala mata lelah namun terbukti dapat mengurangi silau dan meningkatan kontras pada layar monitor.

Posisi layar dan posisi duduk harus sesuai, posisi layar sebaiknya diletakkan 5-6 inchi dibawah garis pandang mata agar dapat tercapai posisi ergonomis sehingga keluhan nyeri kepala, leher dan punggung akan berkurang.
Pemakaian kacamata sangat dianjurkan bagi pengguna komputer yang mempunyai gangguan refraksi, terutama pengguna yang memakai kacamata baca.
Disarankan untuk memakai kacamata multifokal yang mempunyai fokus untuk melihat jauh, sedang ( layar monitor ) dan dekat ( teks ).

Besarnya dampak yang ditimbulkan akibat CVS dapat terjadi secara langsung maupun tak langsung yaitu berupa menurunnya produktivitas dan efisiensi pekerja, oleh karena itu perlu diwaspadai adanya ancaman CVS .

Selalu istirahatkan mata setelah bekerja 2 jam didepan komputer dengan cara memandang jauh atau memejamkan mata selama 10 menit, atau .........tutup saja komputer atau laptop anda !

Hidajat Nerviadi Iksan , Bogor Medical Center dan

RS Karya Bhakti Bogor

Sumber : buletin PERDAMI

Minggu, 20 April 2008

OPERASI MASSAL, operasi katarak bagi keluarga miskin

Di Indonesia, katarak merupakan penyebab kebutaan nomor 1 dengan angka kejadian sekitar 1.5% dari total populasi penduduk, dapat dibayangkan berapa jumlah penderita katarak di Indonesia saat ini.
Pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan telah lama mengadakan berbagai program untuk mengatasi kebutaan karena katarak yang pada umumnya diderita oleh keluarga miskin.




Awalnya para penderita tersebut dioperasi di Rumah Sakit Pemerintah dengan menggunakan fasilitas Kartu Sehat atau Surat Keterangan Tidak Mampu. Namun dengan meningkatnya jumlah pasien katarak, Rumah Sakit tidak mampu menangani karena juga harus melakukan operasi pada pasien katarak yang mampu membayar sedangkan ruangan operasi terbatas.

Untuk me
ngatasi hal tersebut, Depkes membentuk Balai Kesehatan Mata Masyarakat ( BKMM ) di beberapa kota besar, sehingga pelayanan bagi pasien yang tidak mampu lebih terfokus. Karena BKMM terdapat di kota besar, akibatnya masih banyak pasien katarak didaerah terpencil atau pedalaman yang tidak tertangani.
Depkes jug
a mengadakan Unit Mobil Operasi Keliling ( UMOK ), yaitu sebuah bus besar yang di desain sedemikian rupa sehingga dapat untuk melakukan operasi katarak, dilengkapi dengan mikroskop operasi layaknya sebuah kamar operasi di Rumah Sakit. Sayangnya bus ini tidak dapat menjangkau pelosok karena besarnya kendaraan, sehingga pada umumnya hanya sampai di puskesmas yang dekat dengan jalan raya.

Dengan berbagai cara Depkes berusaha meningkatkan pencapaian operasi katarak un
tuk mencegah kebutaan, antara lain dengan sistim rujukan spesialis mata secara periodik untuk daerah terpencil, bekerja sama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat didalam dan luar negeri untuk mendapatkan dana operasional.

Saat ini operasi katarak massal dilaksanakan di Puskesmas Perawatan yang tersebar diseluruh Indonesia, dilaksanakan oleh spesialis mata setempat atau bekerja sama dengan Perdami ( Perhimpunan Spesialis Mata Indonesia ) baik Pusat maupun Cabang bagi daerah yang kekurangan spesialis mata.
Sistim ini dilaksanakan dengan cara melakukan pemeriksaan mata secara rutin oleh dokter puskesmas yang telah dilatih. Pasien katarak dengan kriteria tertentu, antara lain telah kataraknya telah masak, tanpa komplikasi, dewasa/orangtua dikumpulkan pada hari tertentu untuk mendapatkan pelayanan operasi katarak gratis.

Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor telah melaksanakan sistim tersebut dan menunjuk Puskesmas Leuwiliang Kabupaten Bogor sebagai pionir, yang kemudian diikuti dengan beberapa Puskesmas Perawatan di Bogor
Operasi dimulai sejak tahun 1986 bertempat di Puskesmas Perawatan, dengan ruangan dan alat yang masih sederhana namun memenuhi standar untuk o
perasi katarak.

Dengan telah dibangunnya Rumah Sakit Daerah Leuwiliang, maka kegiatan operasi katarak juga pindah ketempat baru yang lebih besar dan memenuhi syarat.

Secara
rutin dilakukan operasi katarak terhadap 20 sampai 25 pasien katarak setiap bulan yang telah melalui seleksi oleh dokter puskesmas maupun spesialis mata setempat.
Pada umumnya mereka adalah pasien yang tidak mampu
dan tidak hanya datang dari kabupaten Bogor, namun juga berasal dari kabupaten tetangga seperti Depok dan Rangkasbitung.

Setelah operasi pasien dibekali dengan obat-obatan dan boleh pulang namun harus kontrol 3 hari kemudian untuk melihat hasil operasi.


Pada awalnya operasi dilakukan dengan hanya menggunakan loupe/kacamata pembesar saja, namun dengan keberhasilan pencapaian target maka Rumah Sakit mendapat bantuan mikroskop operasi.


Adanya mikroskop operasi sangat membantu karena pada saat operasi sekaligus juga dilakukan pemasangan lensa tanam ( Intra Ocular Lens ) agar pasien tidak memakai kacamata tebal seperti operasi pada jaman dahulu.

Pencapaian target selalu meningkat dari tahun ke tahun sehingga target juga selalu dinaikkan agar lebih banyak pasien katarak dapat terhindar dari kebutaan.
Pasien katarak tidak akan pernah habis karena umur harapan hidup penduduk Indonesia juga meningkat, namun demikian ternyata masih banyak juga masyarakat yang belum mengetahui apakah katarak dan bagaimana cara mengatasinya sehingga hanya dianggap penyakit tua dan menjadi buta.

Hidajat Nerviadi Iksan, Bogor Medical Center dan
RS Karya Bhakti Bogor

Rabu, 12 Maret 2008

GLAUKOMA, ada pelangi di bola matamu

Itulah sebuah bait lagu indah dari group band Zamrud, namun bagi kita, ini adalah pertanda buruk karena kemungkinan kita menderita penyakit mata Glaukoma.




Apakah Glaukoma itu ?
Glaukoma adalah penyakit mata yang ditandai dengan adanya peningkatan tekanan bola mata ( TBM ) disertai kerusakan saraf mata dan lapang pandang.

Untuk mudahnya, glaukoma dibagi dalam 2 jenis yaitu glaukoma primer dan sekunder, glaukoma primer dibagi 2 lagi yaitu glaukoma akut/sudut tertutup dan glaukoma kronis/sudut terbuka.Sedangkan glaukoma sekunder adalah glaukoma yang disebabkan oleh karena trauma, operasi mata atau adanya tumor pada mata.

Bagaimana gejala glaukoma akut ?
Gejala awal yaitu mata merah, pandangan seperti melihat adanya pelangi bila melihat bola lampu, nyeri kepala sebelah. Selanjutnya bila dibiarkan akan terjadi penurunan penglihatan secara mendadak, bahkan pada beberapa orang kadang-kadang sampai terjadi mual-mual dan muntah.

Apabila tekanan bola mata dan kemampuan penglihatan diukur saat itu maka akan menunjukkan tekanan yang sangat tinggi ( TBM normal = 15 - 20 mmHg ) dan penglihatan yang sangat buruk sehingga hanya dapat melihat lambaian tangan saja.
Karena glaukoma akut ini menyebabkan penglihatan menjadi sangat buruk secara tiba-tiba maka dapat diibaratkan sebagai si perampok penglihatan.

Bagaimana gejala glaukoma kronis ?
Pada umumnya gejalanya sangat ringan, mata tidak terlalu merah, nyeri kepala tidak terlalu hebat, kadang-kadang menyerupai penyakit flu atau pusing biasa dan penurunan kemampuan penglihatan tidak terlalu dirasakan. Karena semua gejala sangat ringan maka pada umumnya penderita hanya mengatasi keadaan diatas dengan memakan obat-obat sakit kepala atau flu, demikian terjadi berulang-ulang tanpa menyadari bahwa apabila pada saat itu diperiksa sudah terjadi kenaikan tekanan bola mata bahkan mungkin disertai kerusakan saraf optik dan lapang pandang.
Apabila keadaan ini dibiarkan terus menerus maka penderita pada umumnya tidak menyadari bahwa salah satu matanya tidak berfungsi, kalaupun masih berfungsi hanya dapat melihat seperti dalam teropong, terbatas dalam suatu lorong (
tunnel vision ) akibat kerusakan lapang pandang.
Karena glaukoma kronis ini menyebabkan penglihatan menjadi sangat buruk secara perlahan-lahan maka dapat diibaratkan sebagai
si pencuri penglihatan.

Bagaimana gejala glaukoma sekunder ?
Glaukoma jenis ini pada umumnya terjadi akibat adanya penyakit lain pada mata, akibat operasi mata, trauma mata atau tumor pada mata. Gejalanya tergantung pada penyebabnya, dapat berupa gejala yang ringan maupun yang berat namun pada dasarnya mirip dengan glaukoma primer.

Apakah penyebab glaukoma ?
Diyakini bahwa penyebab glaukoma adalah karena tersumbatnya aliran cairan bola mata atau produksi cairan bola mata yang berlebihan. Namun apa yang menyebabkan hal diatas terjadi pada glaukoma primer masih belum jelas diketahui.

Siapakah yang dapat terserang glaukoma ?
Semua orang pada usia diatas 40 tahun dapat saja terserang glaukoma, terutama orang yang mempunyai riwayat glaukoma dalam keluarga, namun demikian glaukoma dapat juga terjadi pada bayi.

Bagaimana pengobatan glaukoma ?
Apapun jenis glaukoma, penderita harus datang ke pusat pelayanan kesehatan terdekat untuk pemeriksaan tanda-tanda glaukoma, dalam hal ini pertolongan pertama akan menentukan kesembuhan. Keterlambatan meminta pertolongan dan kurangnya kemampuan dokter yang pertama menangani dapat menyebabkan penderita mengalami kebutaan.
Selanjutnya penderita harus dirujuk dan dirawat di Rumah Sakit dengan fasilitas yang lebih baik untuk proses pemeriksaan tekanan bola mata, saraf mata dan lapang pandang serta proses penurunan tekanan bola mata. Proses penurunan tekanan bola mata ini dapat dilakukan dengan pemberian obat-obatan antiglaukoma tetes atau tablet maupun intravena, namun apabila cara tersebut tidak berhasil maka dianjurkan untuk operasi dengan cara biasa maupun dengan LASER yang lebih canggih.

Namun perlu diketahui pula bahwa operasi pada glaukoma pada umumnya tidak untuk mengembalikan penglihatan yang telah rabun, operasi ditujukan untuk menurunkan TBM sehingga tidak terjadi kebutaan di kemudian hari.
Hal ini perlu diketahui oleh setiap pasien glaukoma agar tidak kecewa setelah dilakukan operasi.

Pencegahan.
Melakukan pemeriksaan tekanan bola mata terutama bila ada keluhan pada usia diatas 40 tahun atau bila terdapat riwayat glaukoma pada keluarga merupakan suatu cara untuk mencegah terjadinya glaukoma.

Hidajat Nerviadi Iksan, Bogor Medical Center dan

RS Karya Bhakti Bogor

Kamis, 06 Maret 2008

DONOR MATA, sebuah pengalaman mengambil mata donor

Pagi itu telpon dirumahku berdering, Bank Mata mengabarkan bahwa ada seorang peserta donor mata yang meninggal jam 6 pagi tadi. Aku segera bersiap karena akan dijemput oleh petugas Bank Mata untuk menuju lokasi.

Hari itu aku membatalkan semua perjanjian dengan Rumah Sakit karena harus segera melakukan tindakan operasi pengambilan mata donor.

Informasi mengenai jenazah sangat minim, sepanjang perjalanan menuju lokasi aku berpikir bagaimana situasi dirumah keluarga almarhum, bagaimana sikap penerimaannya, bagaimana sikap tetangga sekitarnya ?
Dalam 30 menit kami sampai di rumah almarhum, di daerah Gunung Batu Bogor. Situasi perkampungan cukup padat ,
yang sangat mengherankan adalah penerimaan keluarga almarhum yang sangat ramah, tidak ada muka sedih dan muka tidak bersahabat, demikian juga dengan tetangga sekitarnya.

Masuk kedalam rumah, aku melihat sesosok mayat yang terbujur di lantai ruang tamu ditutup dengan kain batik. Sejenak aku tertegun, tindakan ini sudah pernah aku lakukan tetapi 20 tahun yang lalu sewaktu masih kuliah dan itupun bersama seniorku.
Setelah rasa gugupku hilang , aku berdoa dan meminta ijin untuk melaksanakan tugasku mengambil bola mata.



Donor ini seorang wanita berumur 74 tahun, meninggal karena usia tua. Segera kusiapkan alat-alat untuk operasi dan melakukan enukleasi/pengambilan bola mata dibantu seorang anak almarhumah yang memegang lampu senter.
Dengan mengalami sedikit kesulitan karena melakukan tindakan dengan membungkuk dilantai dan kepala penuh keringat.


Akhirnya dalam 20 menit kedua bola mata sudah dapat diambil, memang lebih mudah mengambil bola mata pada mayat karena sama sekali tidak ada darah yang keluar.
Yang membuatku berkeringat adalah suasana rumah yang panas dan pengap serta pandangan keluarga dan tetangga yang ikut melihat proses tersebut.
Setelah meletakkan bola mata pada tempat khusus, membungkusnya dengan plastik dan memasukkan kedalam box styroform yang diisi es, aku segera mohon pamit.
Bola mata yang telah diambil tersebut harus segera sampai di RS Mata Aini dalam 6 jam setelah donor meninggal. Disana diawetkan lagi dengan cairan khusus yang dapat bertahan lebih lama sambil menunggu di cangkokkan pada pasien yang membutuhkannya.

Keluar dari rumah tersebut aku merasa sangat lega, rasanya terbebas dari beban yang sangat berat, selesai sudah tugasku sebagai ahli bedah mata mayat !
Dalam perjalanan pulang aku mengobrol dengan petugas Bank Mata, ternyata almarhumah adalah pengikut Jamaah Ahmadiyah, dimana suaminya juga diambil bola matanya sewaktu meninggal beberapa tahun yang lalu.
Diperkampungan itu juga terdapat beberapa pengikut Jamaah Ahmadiyah yang mendonorkan matanya.

Terjawab sudah pertanyaanku, mengapa mereka menyambutku dengan ramah, tanpa muka sedih dan muka bermusuhan, karena mereka sudah siap dan mengikhlaskan anggota keluarganya yang meninggal menjalani proses pengambilan bola mata, demikian juga dengan tetangga sekitarnya.



Jamaah Ahmadiyah adalah salah satu aliran dalam Islam yang mempunyai program donor mata pada anggotanya.
Bagi kami sebagai pelaksana pengambilan bola mata, tidak ada perbedaan pada suku, ras, agama atau keyakinan, karena bola mata tersebut sangat berguna bagi ribuan pasien yang menunggunya.



Menurut informasi, ada sekitar 400 donor mata di Bogor yang berasal dari Jamaah Ahmadiyah ini, sedangkan menurut data RS Mata Aini ada sekitar 1400 pasien/resipien yang mengantri untuk mendapatkan donor mata.

Betapa berharganya bola mata tersebut dan betapa mulianya seorang yang menjadi donor mata.

Hidajat Nerviadi Iksan, BOGOR MEDICAL CENTER dan RS Karya Bhakti Bogor

Rabu, 20 Februari 2008

BERSEPEDA DI HUTAN SEBAGAI HOBI






BERSEPEDA DI HUTAN SEBAGAI HOBI



Isi blog ini berbeda dengan isi blog-ku yang lain, ini adalah cerita tentang hobi yang tiba2 timbul sebagai pembunuh waktu.
Sayang sekali banyak klise foto yang sudah hilang, sehingga hanya bisa mereprepro dari foto-foto yang ditemukan dan hasilnya ternyata kurang memuaskan.

Bermula dari penempatanku tahun 1992 di Propinsi Jambi sebagai tenaga medis yang masih langka. Semua Propinsi di daerah Sumatera sudah kukenal , tetapi dimanakah letak Jambi ?
Mungkin pelajaran ilmu bumi ku dulu memang jelek, akhirnya kubuka peta Sumatera, ternyata ada di pantai timur Sumatera, berbatasan dengan Sumatera Selatan.
Ternyata kota Jambi cukup bersih, tertata dengan rapi terutama daerah perkantorannya, dan yang menyenangkan ada trotoar untuk pejalan kaki di semua ruas jalan, bagiku sangat penting karena dapat tetap jogging seperti waktu kuliah di Bandung.
Bulan pertama hari-hariku hanya diisi dengan jogging setiap sore di lapangan depan Kantor Gubernur dan dekat dengan Rumah Sakit tempatku bekerja, cuaca bulan Agustus sangat panas namun hanya itulah yang bisa kukerjakan untuk membunuh waktu.
Sesekali berkeliling sepeda dengan sepeda federal yang kubawa dari Bandung, namun terasa tidak aman karena banyak angkot yang tiba-tiba berhenti mendadak.

Beberapa bulan kemudian aku mulai mendapat teman yang juga hobi bersepeda. Mulailah kami bersepeda setiap sore sejauh 10 km pulang pergi menuju tepian sungai Batanghari, namun melewati pinggir kota sehingga aman dari angkot.
Semakin lama semakin bertambah penggemar sepeda di sore hari dan timbul ide dari seorang teman yang bekerja sebagai sekretaris camat..bagaimana kalau kita bersepeda ke hutan ?. Sebagai orang lapangan dia mengerti seluk beluk kota Jambi.
Memang semua sepeda kita adalah kategori mountain bike yang dilengkapi dengan gigi untuk deaerah tanjakan tetapi belum pernah digunakan karena selama ini selalu didaerah datar.
Ide ini penuh dengan tantangan dan belum pernah ada yang melakukan, mengapa tidak menjadi pionir ?


Akhirnya aku bertiga dengan temanku mencoba membuka jalan bagi teman teman lain yang ternyata sangat antusias dengan ide tersebut.
Pada waktu itu 10 km keluar dari kota Jambi kita masih bisa menemui hutan karet rakyat dan pepohonan lain yang masih lebat dan dihuni beberapa binatang antara lain : babi, monyet, bahkan rusa yang cukup besar.
Kami mengikuti jalan setapak didalam hutan yang dibuat oleh para penyadap karet untuk mengangkut hasil sadapannya dengan sepeda atau sepeda motor.

Hari pertama perjalanan sangat melelahkan, bersepeda di jalan raya dan di daerah hutan sangat berbeda, baru setengah jalan kita sudah menyerah dan kembali ke kota. Tidak diduga banyak tanjakan, turunan, tikungan bahkan sungai kecil di dalam hutan, sehingga perjalanan benar-benar sangat menguras tenaga.
Beberapa hari kemudian kita mencoba jalur lain dengan harapan mendapat jalur yang tidak terlalu terjal atau sulit. Dalam masa pencarian kami selalu melengkapi sepeda dengan lampu, penambal ban instant, pompa sepeda untuk mengantisipasi keadaan yang buruk, dan tidak lupa ransel yang diisi makanan dan minuman.


Akhirnya kita mendapat 4 jalur dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Setelah jalur dirasa aman dan dapat dilalui maka kelompok sepeda gunung Rumah Sakit siap untuk beraksi.

Mulanya berbagai keluh kesah dan umpatan ditujukan kepada kami karena sulit dan terjalnya medan, apalagi di musim hujan sangat licin, sepeda tidak dapat dikendalikan dan kita sering jatuh bangun hingga badan babak belur.




Ternyata lama kelamaan mengasyikan juga dan hampir setiap sore baik panas maupun hujan kita selalu bersepeda ke hutan yang kita tempuh dalam 3 jam pulang pergi.
Beberapa dari kamipun sudah mempunyai sepeda gunung yang ringan sehingga dengan mudah dapat diangkat bila menemui medan yang tidak dapat dilalui, juga dilengkapi pemindah kecepatan dengan gigi yang banyak sehingga mudah menaklukkan tanjakan. Bahkan ada yang dilengkapi dengan ban sepeda yang terbuat dari kevlar yang sangat ringan, kuat anti bocor dan harganya pada saat itu sama dengan harga ban mobil !

Udara di hutan terasa masih sangat segar dengan bau pepohonan dan kicauan burung hutan, teriakan monyet-monyet, semuanya membuat hilang rasa lelah.

Akhirnya dengan berjalannya waktu dan bertambahnya umur, banyak penggemar sepeda gunung yang mengundurkan diri karena beratnya medan, pindah tugas atau sakit , tetapi yang sangat disesalkan adalah hilangnya hutan-hutan tersebut karena telah menjadi perumahan dan pertokoan.

Dengan demikian hilang pulalah lahan untuk menyalurkan hobi bersepeda gunung yang sangat jarang digemari karena penuh dengan medan yang menantang.