Senin, 28 April 2008

AGE RELATED MACULAR DEGENERATION




Age Related Macular Degeneration ( AMD ), adalah kelainan pada mata berupa proses degenerasi pada makula lutea ( bagian dari saraf mata yang berfungsi untuk penglihatan sentral ).






Kelainan ini pada umumnya terjadi pada 10% orangtua diatas 60 tahun dan frekwensinya makin bertambah seiring dengan bertambahnya umur.
Penelitian di Amerika Serikat menunjukkan bahwa 70% penderita dengan kelainan ini akan mengalami kebutaan.



Gejala utama kelainan ini adalah adanya bercak hitam yang menghalangi penglihatan.
Adanya bercak ini menyebabkan penderita melihat ada sesuatu yang menutup/mengganggu obyek yang dilihat, antara lain dapat berupa perubahan bentuk garis menjadi bengkok, atau televisi tidak terlihat gambarnya, atau wajah tidak terlihat mata, hidung dan lain lain atau bahkan wajahnya samasekali tidak terlihat, hanya kepalanya saja.


Penyebab kelainan ini adalah kerusakan pada pusat penglihatan sentral mata di retina akibat adanya kerusakan pada sistim pembuangan sel-sel saraf yang telah mati.






Mengapa tidak semua orang tua menderita kelainan ini ?
Beberapa kondisi atau penyakit yang berhubungan dengan kelainan ini antara lain : jenis kelamin, dimana wanita lebih banyak terserang daripada laki-laki, adanya penyakit tekanan darah tinggi, hiperkholesterol, obesitas, perokok , kekurangan nutrisi dan adanya riwayat penyakit yang sama dalam keluarga.

Pada jaman dahulu, kaburnya penglihatan ini dianggap penyakit tua karena belum adanya alat dan tindakan yang canggih untuk mengatasinya.
Sekarang kelainan ini dapat dideteksi dengan mudah, namun masih terbatas di kota-kota besar saja karena mahalnya alat.

Bagaimana mengatasinya ?
Pengobatan untuk kelainan ini masih menjadi kendala karena harga obat yang sangat mahal.
Obat ini berupa cairan yang disuntikkan kedalam bola mata setiap b
ulan selama 3 bulan dengan harga obat sekali suntik sekitar 15 juta !
Sehingga untuk di Indonesia, pengobatan ini hanya untuk orang-orang yang mampu saja sedangkan kelainan ini menyerang siapa saja baik kaya atau miskin.
Selain
dengan obat, dapat juga dilakukan tindakan Laser untuk mencegah terjadinya kerusakan lebih lanjut.
Diluar negeri juga telah dilakukan operasi untuk kelainan ini, berupa pengangkatan jaringan sistim pembuangan saraf yang rusak, namun hal ini memerlukan ketelitian yang sangat tinggi sehingga tidak terangkat jaringan yang masih bagus dan justru menimbulkan kebutaan
.

Pencegahan lebih penting daripada pengobatan.


Hal ini dapat dilakukan dengan mencegah terjadinya penyakit-penyakit diatas, mengurangi makanan berlemak dan mengkonsumsi bahan makanan yang mengandung komponen-komponen yang berguna bagi saraf mata, terutama sayur dan buah-buahan.
Atau dapat juga mengkonsumsi suplemen yang komposisinya terdiri dari bahan-bahan yang berguna bagi saraf mata terutama untuk orang tua antara lain yang mengandung vitamin C, vitamin E dan betakaroten.



Marilah kita menjadi tua dengan mata yang tetap berkualitas !


Hidajat Nerviadi Iksan, Bogor Medical Center
dan RS Karya Bhakti Bogor





Jumat, 25 April 2008

COMPUTER VISION SYNDROME

Seperti kata Tukul :…kembali ke laptop !
Kata-kata ini merupakan manifestasi bahwa penggunaan komputer atau laptop dilingkungan kerja atau rumah sudah merupakan hal yang biasa dan sudah menjadi bagian dari kehidupan kita.



Penggunaan komputer disamping terbukti meningkatkan produktivitas dan efisiensi kerja namun tern
yata juga dapat menimbulkan gangguan kesehatan khususnya mata. Melihat besarnya penggunaan komputer dalam kehidupan manusia, tentu perlu suatu cara untuk mengantisipasi efek negatif yang dapat ditimbulkannya.

Computer Vision Syndrome ( CVS ), adalah salah satu bentuk dampak negatif akibat pemakaian komputer atau Video Display Terminal ( VDT ).
Kelainan ini berupa sekumpulan gejala atau sindroma baik yang berhubungan dengan mata atau tidak, setelah bekerja didepan komputer.
Secara awam dapat dikatakan ada 3 mekanisme yang berkaitan yaitu perubahan permukaan mata, perubahan mekanisme akomodatif dan perubahan yang tidak berkaitan dengan mata.

Gejala CVS yang berhubungan dengan mata adalah kelelahan dan ketegangan mata, mata kering dan penglihatan buram, sedangkan yang tidak berhubungan dengan mata antara lain sakit kepala, nyeri leher dan punggung.
Gejala CVS terjadi pada 75% pengguna komputer selama 6 sampai 9 jam sehari dan 9 sampai 12% diantaranya datang ke spesialis mata.

Penyebab perubahan permukaan mata berupa mata terasa kering atau berpasir antara lain adalah faktor lingkungan seperti penggunaan penyejuk udara, kipas angin, debu, penurunan refleks kedip, penyakit sistemik, penggunaan obat-obatan dan penggunaan lensa kontak.

Perubahan mekanisme akomodatif timbul karena huruf pada layar komputer sangat berbeda dengan teks pada kertas karena terbentuk dari titik-titik kecil yang tersusun dan membentuk huruf atau angka yang disebut pixels.
Telah dibuktikan bahwa mata lebih sulit fokus pada tulisan ini sehingga mata akan berakomodasi terus menerus agar tulisan menjadi jelas,akibatnya timbul kelelahan otot mata.
Akomodasi yang terus menerus pada jarak dekat diduga ikut berperan sebagai penyebab timbulnya mata minus, namun belum ada literatur yang menyatakan bahwa pengguna komputer memiliki resiko lebih tinggi dibandingkan dengan yang bukan pengguna komputer.

Perubahan yang tidak berkaitan dengan mata timbul karena gangguan tajam penglihatan mempengaruhi organ tubuh yang lain seperti otot.
Pengguna komputer yang melihat tulisan tidak jelas pada monitor komputer memicu pergerakan kepala, leher dan bahu kedepan yang pada akhirnya akan menimbulkan nyeri otot.

Karakteristik komputer juga berpengaruh pada penglihatan, antara lain kualitas display, makin tinggi resolusi layar komputer maka huruf atau gambar akan makin tegas sehingga mata akan lebih jelas melihat tanpa akomodasi yang berlebihan, demikian juga karakter tulisan yang berwarna gelap dengan latar yang lebih terang akan menambah kenyamanan dan mengurangi kelelahan mata.

Pencahayaan yang kurang baik atau terlalu terang dapat menimbulkan efek silau sehingga karakter huruf atau gambar pada layar monitor menjadi kabur.
Layar komputer menghasilkan sinar alfa, beta dan sinar x dan radiasi ion telah diketahui dapat mengg
angu stabilitas sel tubuh dengan cara merusak ikatan kimia sehingga dapat mempengaruhi stabilitas sel-sel saraf mata,

Untuk mengatasi CVS diperlukan pendekatan multisektoral sesuai dengan keluhan yang bervariasi.
Pencahayaan yang tepat pada ruang kerja akan menghasilkan kenyamanan sehingga dapat mengurangi kelelahan mata. Pemberian filter anti silau tidak akan mengurangi gejala mata lelah namun terbukti dapat mengurangi silau dan meningkatan kontras pada layar monitor.

Posisi layar dan posisi duduk harus sesuai, posisi layar sebaiknya diletakkan 5-6 inchi dibawah garis pandang mata agar dapat tercapai posisi ergonomis sehingga keluhan nyeri kepala, leher dan punggung akan berkurang.
Pemakaian kacamata sangat dianjurkan bagi pengguna komputer yang mempunyai gangguan refraksi, terutama pengguna yang memakai kacamata baca.
Disarankan untuk memakai kacamata multifokal yang mempunyai fokus untuk melihat jauh, sedang ( layar monitor ) dan dekat ( teks ).

Besarnya dampak yang ditimbulkan akibat CVS dapat terjadi secara langsung maupun tak langsung yaitu berupa menurunnya produktivitas dan efisiensi pekerja, oleh karena itu perlu diwaspadai adanya ancaman CVS .

Selalu istirahatkan mata setelah bekerja 2 jam didepan komputer dengan cara memandang jauh atau memejamkan mata selama 10 menit, atau .........tutup saja komputer atau laptop anda !

Hidajat Nerviadi Iksan , Bogor Medical Center dan

RS Karya Bhakti Bogor

Sumber : buletin PERDAMI

Minggu, 20 April 2008

OPERASI MASSAL, operasi katarak bagi keluarga miskin

Di Indonesia, katarak merupakan penyebab kebutaan nomor 1 dengan angka kejadian sekitar 1.5% dari total populasi penduduk, dapat dibayangkan berapa jumlah penderita katarak di Indonesia saat ini.
Pemerintah dalam hal ini Departemen Kesehatan telah lama mengadakan berbagai program untuk mengatasi kebutaan karena katarak yang pada umumnya diderita oleh keluarga miskin.




Awalnya para penderita tersebut dioperasi di Rumah Sakit Pemerintah dengan menggunakan fasilitas Kartu Sehat atau Surat Keterangan Tidak Mampu. Namun dengan meningkatnya jumlah pasien katarak, Rumah Sakit tidak mampu menangani karena juga harus melakukan operasi pada pasien katarak yang mampu membayar sedangkan ruangan operasi terbatas.

Untuk me
ngatasi hal tersebut, Depkes membentuk Balai Kesehatan Mata Masyarakat ( BKMM ) di beberapa kota besar, sehingga pelayanan bagi pasien yang tidak mampu lebih terfokus. Karena BKMM terdapat di kota besar, akibatnya masih banyak pasien katarak didaerah terpencil atau pedalaman yang tidak tertangani.
Depkes jug
a mengadakan Unit Mobil Operasi Keliling ( UMOK ), yaitu sebuah bus besar yang di desain sedemikian rupa sehingga dapat untuk melakukan operasi katarak, dilengkapi dengan mikroskop operasi layaknya sebuah kamar operasi di Rumah Sakit. Sayangnya bus ini tidak dapat menjangkau pelosok karena besarnya kendaraan, sehingga pada umumnya hanya sampai di puskesmas yang dekat dengan jalan raya.

Dengan berbagai cara Depkes berusaha meningkatkan pencapaian operasi katarak un
tuk mencegah kebutaan, antara lain dengan sistim rujukan spesialis mata secara periodik untuk daerah terpencil, bekerja sama dengan Lembaga Swadaya Masyarakat didalam dan luar negeri untuk mendapatkan dana operasional.

Saat ini operasi katarak massal dilaksanakan di Puskesmas Perawatan yang tersebar diseluruh Indonesia, dilaksanakan oleh spesialis mata setempat atau bekerja sama dengan Perdami ( Perhimpunan Spesialis Mata Indonesia ) baik Pusat maupun Cabang bagi daerah yang kekurangan spesialis mata.
Sistim ini dilaksanakan dengan cara melakukan pemeriksaan mata secara rutin oleh dokter puskesmas yang telah dilatih. Pasien katarak dengan kriteria tertentu, antara lain telah kataraknya telah masak, tanpa komplikasi, dewasa/orangtua dikumpulkan pada hari tertentu untuk mendapatkan pelayanan operasi katarak gratis.

Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor telah melaksanakan sistim tersebut dan menunjuk Puskesmas Leuwiliang Kabupaten Bogor sebagai pionir, yang kemudian diikuti dengan beberapa Puskesmas Perawatan di Bogor
Operasi dimulai sejak tahun 1986 bertempat di Puskesmas Perawatan, dengan ruangan dan alat yang masih sederhana namun memenuhi standar untuk o
perasi katarak.

Dengan telah dibangunnya Rumah Sakit Daerah Leuwiliang, maka kegiatan operasi katarak juga pindah ketempat baru yang lebih besar dan memenuhi syarat.

Secara
rutin dilakukan operasi katarak terhadap 20 sampai 25 pasien katarak setiap bulan yang telah melalui seleksi oleh dokter puskesmas maupun spesialis mata setempat.
Pada umumnya mereka adalah pasien yang tidak mampu
dan tidak hanya datang dari kabupaten Bogor, namun juga berasal dari kabupaten tetangga seperti Depok dan Rangkasbitung.

Setelah operasi pasien dibekali dengan obat-obatan dan boleh pulang namun harus kontrol 3 hari kemudian untuk melihat hasil operasi.


Pada awalnya operasi dilakukan dengan hanya menggunakan loupe/kacamata pembesar saja, namun dengan keberhasilan pencapaian target maka Rumah Sakit mendapat bantuan mikroskop operasi.


Adanya mikroskop operasi sangat membantu karena pada saat operasi sekaligus juga dilakukan pemasangan lensa tanam ( Intra Ocular Lens ) agar pasien tidak memakai kacamata tebal seperti operasi pada jaman dahulu.

Pencapaian target selalu meningkat dari tahun ke tahun sehingga target juga selalu dinaikkan agar lebih banyak pasien katarak dapat terhindar dari kebutaan.
Pasien katarak tidak akan pernah habis karena umur harapan hidup penduduk Indonesia juga meningkat, namun demikian ternyata masih banyak juga masyarakat yang belum mengetahui apakah katarak dan bagaimana cara mengatasinya sehingga hanya dianggap penyakit tua dan menjadi buta.

Hidajat Nerviadi Iksan, Bogor Medical Center dan
RS Karya Bhakti Bogor

Rabu, 12 Maret 2008

GLAUKOMA, ada pelangi di bola matamu

Itulah sebuah bait lagu indah dari group band Zamrud, namun bagi kita, ini adalah pertanda buruk karena kemungkinan kita menderita penyakit mata Glaukoma.




Apakah Glaukoma itu ?
Glaukoma adalah penyakit mata yang ditandai dengan adanya peningkatan tekanan bola mata ( TBM ) disertai kerusakan saraf mata dan lapang pandang.

Untuk mudahnya, glaukoma dibagi dalam 2 jenis yaitu glaukoma primer dan sekunder, glaukoma primer dibagi 2 lagi yaitu glaukoma akut/sudut tertutup dan glaukoma kronis/sudut terbuka.Sedangkan glaukoma sekunder adalah glaukoma yang disebabkan oleh karena trauma, operasi mata atau adanya tumor pada mata.

Bagaimana gejala glaukoma akut ?
Gejala awal yaitu mata merah, pandangan seperti melihat adanya pelangi bila melihat bola lampu, nyeri kepala sebelah. Selanjutnya bila dibiarkan akan terjadi penurunan penglihatan secara mendadak, bahkan pada beberapa orang kadang-kadang sampai terjadi mual-mual dan muntah.

Apabila tekanan bola mata dan kemampuan penglihatan diukur saat itu maka akan menunjukkan tekanan yang sangat tinggi ( TBM normal = 15 - 20 mmHg ) dan penglihatan yang sangat buruk sehingga hanya dapat melihat lambaian tangan saja.
Karena glaukoma akut ini menyebabkan penglihatan menjadi sangat buruk secara tiba-tiba maka dapat diibaratkan sebagai si perampok penglihatan.

Bagaimana gejala glaukoma kronis ?
Pada umumnya gejalanya sangat ringan, mata tidak terlalu merah, nyeri kepala tidak terlalu hebat, kadang-kadang menyerupai penyakit flu atau pusing biasa dan penurunan kemampuan penglihatan tidak terlalu dirasakan. Karena semua gejala sangat ringan maka pada umumnya penderita hanya mengatasi keadaan diatas dengan memakan obat-obat sakit kepala atau flu, demikian terjadi berulang-ulang tanpa menyadari bahwa apabila pada saat itu diperiksa sudah terjadi kenaikan tekanan bola mata bahkan mungkin disertai kerusakan saraf optik dan lapang pandang.
Apabila keadaan ini dibiarkan terus menerus maka penderita pada umumnya tidak menyadari bahwa salah satu matanya tidak berfungsi, kalaupun masih berfungsi hanya dapat melihat seperti dalam teropong, terbatas dalam suatu lorong (
tunnel vision ) akibat kerusakan lapang pandang.
Karena glaukoma kronis ini menyebabkan penglihatan menjadi sangat buruk secara perlahan-lahan maka dapat diibaratkan sebagai
si pencuri penglihatan.

Bagaimana gejala glaukoma sekunder ?
Glaukoma jenis ini pada umumnya terjadi akibat adanya penyakit lain pada mata, akibat operasi mata, trauma mata atau tumor pada mata. Gejalanya tergantung pada penyebabnya, dapat berupa gejala yang ringan maupun yang berat namun pada dasarnya mirip dengan glaukoma primer.

Apakah penyebab glaukoma ?
Diyakini bahwa penyebab glaukoma adalah karena tersumbatnya aliran cairan bola mata atau produksi cairan bola mata yang berlebihan. Namun apa yang menyebabkan hal diatas terjadi pada glaukoma primer masih belum jelas diketahui.

Siapakah yang dapat terserang glaukoma ?
Semua orang pada usia diatas 40 tahun dapat saja terserang glaukoma, terutama orang yang mempunyai riwayat glaukoma dalam keluarga, namun demikian glaukoma dapat juga terjadi pada bayi.

Bagaimana pengobatan glaukoma ?
Apapun jenis glaukoma, penderita harus datang ke pusat pelayanan kesehatan terdekat untuk pemeriksaan tanda-tanda glaukoma, dalam hal ini pertolongan pertama akan menentukan kesembuhan. Keterlambatan meminta pertolongan dan kurangnya kemampuan dokter yang pertama menangani dapat menyebabkan penderita mengalami kebutaan.
Selanjutnya penderita harus dirujuk dan dirawat di Rumah Sakit dengan fasilitas yang lebih baik untuk proses pemeriksaan tekanan bola mata, saraf mata dan lapang pandang serta proses penurunan tekanan bola mata. Proses penurunan tekanan bola mata ini dapat dilakukan dengan pemberian obat-obatan antiglaukoma tetes atau tablet maupun intravena, namun apabila cara tersebut tidak berhasil maka dianjurkan untuk operasi dengan cara biasa maupun dengan LASER yang lebih canggih.

Namun perlu diketahui pula bahwa operasi pada glaukoma pada umumnya tidak untuk mengembalikan penglihatan yang telah rabun, operasi ditujukan untuk menurunkan TBM sehingga tidak terjadi kebutaan di kemudian hari.
Hal ini perlu diketahui oleh setiap pasien glaukoma agar tidak kecewa setelah dilakukan operasi.

Pencegahan.
Melakukan pemeriksaan tekanan bola mata terutama bila ada keluhan pada usia diatas 40 tahun atau bila terdapat riwayat glaukoma pada keluarga merupakan suatu cara untuk mencegah terjadinya glaukoma.

Hidajat Nerviadi Iksan, Bogor Medical Center dan

RS Karya Bhakti Bogor

Kamis, 06 Maret 2008

DONOR MATA, sebuah pengalaman mengambil mata donor

Pagi itu telpon dirumahku berdering, Bank Mata mengabarkan bahwa ada seorang peserta donor mata yang meninggal jam 6 pagi tadi. Aku segera bersiap karena akan dijemput oleh petugas Bank Mata untuk menuju lokasi.

Hari itu aku membatalkan semua perjanjian dengan Rumah Sakit karena harus segera melakukan tindakan operasi pengambilan mata donor.

Informasi mengenai jenazah sangat minim, sepanjang perjalanan menuju lokasi aku berpikir bagaimana situasi dirumah keluarga almarhum, bagaimana sikap penerimaannya, bagaimana sikap tetangga sekitarnya ?
Dalam 30 menit kami sampai di rumah almarhum, di daerah Gunung Batu Bogor. Situasi perkampungan cukup padat ,
yang sangat mengherankan adalah penerimaan keluarga almarhum yang sangat ramah, tidak ada muka sedih dan muka tidak bersahabat, demikian juga dengan tetangga sekitarnya.

Masuk kedalam rumah, aku melihat sesosok mayat yang terbujur di lantai ruang tamu ditutup dengan kain batik. Sejenak aku tertegun, tindakan ini sudah pernah aku lakukan tetapi 20 tahun yang lalu sewaktu masih kuliah dan itupun bersama seniorku.
Setelah rasa gugupku hilang , aku berdoa dan meminta ijin untuk melaksanakan tugasku mengambil bola mata.



Donor ini seorang wanita berumur 74 tahun, meninggal karena usia tua. Segera kusiapkan alat-alat untuk operasi dan melakukan enukleasi/pengambilan bola mata dibantu seorang anak almarhumah yang memegang lampu senter.
Dengan mengalami sedikit kesulitan karena melakukan tindakan dengan membungkuk dilantai dan kepala penuh keringat.


Akhirnya dalam 20 menit kedua bola mata sudah dapat diambil, memang lebih mudah mengambil bola mata pada mayat karena sama sekali tidak ada darah yang keluar.
Yang membuatku berkeringat adalah suasana rumah yang panas dan pengap serta pandangan keluarga dan tetangga yang ikut melihat proses tersebut.
Setelah meletakkan bola mata pada tempat khusus, membungkusnya dengan plastik dan memasukkan kedalam box styroform yang diisi es, aku segera mohon pamit.
Bola mata yang telah diambil tersebut harus segera sampai di RS Mata Aini dalam 6 jam setelah donor meninggal. Disana diawetkan lagi dengan cairan khusus yang dapat bertahan lebih lama sambil menunggu di cangkokkan pada pasien yang membutuhkannya.

Keluar dari rumah tersebut aku merasa sangat lega, rasanya terbebas dari beban yang sangat berat, selesai sudah tugasku sebagai ahli bedah mata mayat !
Dalam perjalanan pulang aku mengobrol dengan petugas Bank Mata, ternyata almarhumah adalah pengikut Jamaah Ahmadiyah, dimana suaminya juga diambil bola matanya sewaktu meninggal beberapa tahun yang lalu.
Diperkampungan itu juga terdapat beberapa pengikut Jamaah Ahmadiyah yang mendonorkan matanya.

Terjawab sudah pertanyaanku, mengapa mereka menyambutku dengan ramah, tanpa muka sedih dan muka bermusuhan, karena mereka sudah siap dan mengikhlaskan anggota keluarganya yang meninggal menjalani proses pengambilan bola mata, demikian juga dengan tetangga sekitarnya.



Jamaah Ahmadiyah adalah salah satu aliran dalam Islam yang mempunyai program donor mata pada anggotanya.
Bagi kami sebagai pelaksana pengambilan bola mata, tidak ada perbedaan pada suku, ras, agama atau keyakinan, karena bola mata tersebut sangat berguna bagi ribuan pasien yang menunggunya.



Menurut informasi, ada sekitar 400 donor mata di Bogor yang berasal dari Jamaah Ahmadiyah ini, sedangkan menurut data RS Mata Aini ada sekitar 1400 pasien/resipien yang mengantri untuk mendapatkan donor mata.

Betapa berharganya bola mata tersebut dan betapa mulianya seorang yang menjadi donor mata.

Hidajat Nerviadi Iksan, BOGOR MEDICAL CENTER dan RS Karya Bhakti Bogor

Rabu, 20 Februari 2008

BERSEPEDA DI HUTAN SEBAGAI HOBI






BERSEPEDA DI HUTAN SEBAGAI HOBI



Isi blog ini berbeda dengan isi blog-ku yang lain, ini adalah cerita tentang hobi yang tiba2 timbul sebagai pembunuh waktu.
Sayang sekali banyak klise foto yang sudah hilang, sehingga hanya bisa mereprepro dari foto-foto yang ditemukan dan hasilnya ternyata kurang memuaskan.

Bermula dari penempatanku tahun 1992 di Propinsi Jambi sebagai tenaga medis yang masih langka. Semua Propinsi di daerah Sumatera sudah kukenal , tetapi dimanakah letak Jambi ?
Mungkin pelajaran ilmu bumi ku dulu memang jelek, akhirnya kubuka peta Sumatera, ternyata ada di pantai timur Sumatera, berbatasan dengan Sumatera Selatan.
Ternyata kota Jambi cukup bersih, tertata dengan rapi terutama daerah perkantorannya, dan yang menyenangkan ada trotoar untuk pejalan kaki di semua ruas jalan, bagiku sangat penting karena dapat tetap jogging seperti waktu kuliah di Bandung.
Bulan pertama hari-hariku hanya diisi dengan jogging setiap sore di lapangan depan Kantor Gubernur dan dekat dengan Rumah Sakit tempatku bekerja, cuaca bulan Agustus sangat panas namun hanya itulah yang bisa kukerjakan untuk membunuh waktu.
Sesekali berkeliling sepeda dengan sepeda federal yang kubawa dari Bandung, namun terasa tidak aman karena banyak angkot yang tiba-tiba berhenti mendadak.

Beberapa bulan kemudian aku mulai mendapat teman yang juga hobi bersepeda. Mulailah kami bersepeda setiap sore sejauh 10 km pulang pergi menuju tepian sungai Batanghari, namun melewati pinggir kota sehingga aman dari angkot.
Semakin lama semakin bertambah penggemar sepeda di sore hari dan timbul ide dari seorang teman yang bekerja sebagai sekretaris camat..bagaimana kalau kita bersepeda ke hutan ?. Sebagai orang lapangan dia mengerti seluk beluk kota Jambi.
Memang semua sepeda kita adalah kategori mountain bike yang dilengkapi dengan gigi untuk deaerah tanjakan tetapi belum pernah digunakan karena selama ini selalu didaerah datar.
Ide ini penuh dengan tantangan dan belum pernah ada yang melakukan, mengapa tidak menjadi pionir ?


Akhirnya aku bertiga dengan temanku mencoba membuka jalan bagi teman teman lain yang ternyata sangat antusias dengan ide tersebut.
Pada waktu itu 10 km keluar dari kota Jambi kita masih bisa menemui hutan karet rakyat dan pepohonan lain yang masih lebat dan dihuni beberapa binatang antara lain : babi, monyet, bahkan rusa yang cukup besar.
Kami mengikuti jalan setapak didalam hutan yang dibuat oleh para penyadap karet untuk mengangkut hasil sadapannya dengan sepeda atau sepeda motor.

Hari pertama perjalanan sangat melelahkan, bersepeda di jalan raya dan di daerah hutan sangat berbeda, baru setengah jalan kita sudah menyerah dan kembali ke kota. Tidak diduga banyak tanjakan, turunan, tikungan bahkan sungai kecil di dalam hutan, sehingga perjalanan benar-benar sangat menguras tenaga.
Beberapa hari kemudian kita mencoba jalur lain dengan harapan mendapat jalur yang tidak terlalu terjal atau sulit. Dalam masa pencarian kami selalu melengkapi sepeda dengan lampu, penambal ban instant, pompa sepeda untuk mengantisipasi keadaan yang buruk, dan tidak lupa ransel yang diisi makanan dan minuman.


Akhirnya kita mendapat 4 jalur dengan tingkat kesulitan yang berbeda-beda. Setelah jalur dirasa aman dan dapat dilalui maka kelompok sepeda gunung Rumah Sakit siap untuk beraksi.

Mulanya berbagai keluh kesah dan umpatan ditujukan kepada kami karena sulit dan terjalnya medan, apalagi di musim hujan sangat licin, sepeda tidak dapat dikendalikan dan kita sering jatuh bangun hingga badan babak belur.




Ternyata lama kelamaan mengasyikan juga dan hampir setiap sore baik panas maupun hujan kita selalu bersepeda ke hutan yang kita tempuh dalam 3 jam pulang pergi.
Beberapa dari kamipun sudah mempunyai sepeda gunung yang ringan sehingga dengan mudah dapat diangkat bila menemui medan yang tidak dapat dilalui, juga dilengkapi pemindah kecepatan dengan gigi yang banyak sehingga mudah menaklukkan tanjakan. Bahkan ada yang dilengkapi dengan ban sepeda yang terbuat dari kevlar yang sangat ringan, kuat anti bocor dan harganya pada saat itu sama dengan harga ban mobil !

Udara di hutan terasa masih sangat segar dengan bau pepohonan dan kicauan burung hutan, teriakan monyet-monyet, semuanya membuat hilang rasa lelah.

Akhirnya dengan berjalannya waktu dan bertambahnya umur, banyak penggemar sepeda gunung yang mengundurkan diri karena beratnya medan, pindah tugas atau sakit , tetapi yang sangat disesalkan adalah hilangnya hutan-hutan tersebut karena telah menjadi perumahan dan pertokoan.

Dengan demikian hilang pulalah lahan untuk menyalurkan hobi bersepeda gunung yang sangat jarang digemari karena penuh dengan medan yang menantang.

Rabu, 12 Desember 2007

TAK ADA TAWAR MENAWAR, TETAP PAKAI HELM !

Itulah cuplikan bunyi kalimat dalam satu iklan layanan masyarakat di radio swasta. Memang demikianlah seharusnya para pengendara dan penumpang sepeda motor bersikap, namun masih banyak diantaranya yang meremehkan pemakaian helm sebagai pelindung kepala.


Pengendara sepeda motor tanpa helm atau menggunakan helm yang tidak memenuhi standar mempunyai peluang cedera 3 kali lebih besar dibandingkan dengan yang memakai helm yang memenuhi persyaratan.
Penelitian yang dilakukan oleh Polri tahun 2004 menunjukkan bahwa 8 dari 10 kecelakaan lalu lintas melibatkan sepeda motor dan 1 dari 3 pengendara sepeda motor
yang terluka mengalami cedera kepala berupa gegar otak atau luka-luka di kepala.


Demi keselamatan pengendara dan penumpang, pemerintah telah mengeluarkan Undang-Undang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan ( UULAJ ) no 14 tahun 1992 dan Peraturan Pemerintah ( PP ) no 4 tahun 1993 mensyaratkan bagi semua pengendara sepeda motor dan penumpangnya untuk memakai helm.
Pelanggaran terhadap ketentuan diatas akan dikenakan pidana kurungan 1 ( satu ) bulan atau denda Rp.1.000.000 (Satu Juta Rupiah )
.


Demi menghindari Polisi, para pengendara dan penumpang sepeda motor memang memakai helm, namun masih banyak juga yang memakai helm seenaknya atau asal nempel dan tidak memenuhi persyaratan keamanan.


Beberapa macam helm jenis diatas dan masih sering dijumpai antara lain : berupa topi plastik, topi proyek, helm pengendara sepeda balap/gunung, helm pilot pesawat Perang Dunia II/helm batok, helm ABRI/topi baja.
Helm/pelindung kepala jenis tersebut dilaran
g dipakai untuk mengendarai atau menumpang sepeda motor karena masing-masing helm mempunyai kegunaan tersendiri.


Demi uang, masih banyak pengendara motor dan penumpang yang mengabaikan keamanan. Helm plastik tidak dapat melindungi kepala namun harganya murah dan dapat menghindari Polisi.
Demi mode,
pengendara motor gede ( mog
e ) masih ada yang menggunakan helm yang tidak memenuhi syarat keamanan.
Mereka
pada umumnya menggunakan helm jenis batok agar masih terlihat wajahnya, padahal mereka pasti dapat membeli helm yang mahal dan memenuhi syarat keamanan.


Helm harus memenuhi persyaratan antara lain : melindungi atau menutupi seluruh kepala ( full face ) atau sekurangnya ¾ dari kepala, hanya terbuka di bagian muka atau rahang ( open face ).
Helm yang dianjurkan adalah yang telah memenuhi Standar Nasional Indonesia ( SNI ), ditandai dengan pencantuman logo SNI pada helm.


Helm yang baik harus terdiri dari 3 bagian yaitu :



  1. Lapisan luar, harus cukup keras, dirancang untuk dapat pecah jika mengalami benturan agar dapat mengurangi dampak tekanan sebelum sampai ke kepala, dibuat dari bahan polycarbonate.

  2. Lapisan dalam yang tebal, dibuat dari polystyrene/styroform, berguna untuk pelapis/bantalan goncangan sewaktu helm terbentur benda keras.

  3. Lapisan dalam yang lunak, dibuat dari bahan lunak/kain untuk menempatkan kepala secara tepat pada rongga helm.

  4. Tali pengikat dagu, harus dapat diatur, dikunci dan cukup kuat untuk menahan helm agar tetap pada posisi melindungi kepala bila terjadi benturan.

Kecelakaan dapat terjadi sewaktu-waktu dan datang tanpa pernah memberi tahu sehingga kita harus selalu melindungi diri terhadap kemungkinan datangnya kecelakaan yang menimpa suatu ketika.
Harga sebuah helm yang memenuhi standar keamanan mungkin menjadi salah satu masalah. Tetapi hal itu tentunya tidak sebanding dengan harga jiwa dan keselamatan yang kita miliki.


Ingat, sekeras-kerasnya kepala seseorang, masih lebih keras aspal jalan raya. Jadi, dari pada terjadi hal yang tidak diinginkan, lebih baik tinggalkan “ ke-keras kepala-an “ anda dan mulailah menyayangi kepala yang hanya satu-satunya ini.


Dibawah ini adalah seorang anak laki-laki umur 17 thn yang mengalami kecelakaan sepeda motor hanya beberapa ratus meter dari rumahnya karena meremehkan pemakaian helm.










Senin, 01 Oktober 2007

PROTHESA MATA

Prothesa adalah suatu bahan yang terbuat dari semacam plastik ( acrilic ) atau logam yang dapat diterima oleh tubuh manusia. Bahan ini dapat dibentuk sedemikian rupa dengan menggunakan cetakan sesuai dengan yang diinginkan. Pada umumnya prothesa dibuat dan digunakan untuk menggantikan bagian dari tubuh yang rusak seperti bola mata, gigi, dan persendian.


Tidak seperti prothesa gigi/gigi tiruan/gigi palsu yang dapat dibuat sesuai dengan cetakan rahang, maka prothesa mata dibuat dengan ukuran-ukuran tertentu yaitu kecil, sedang, besar dan ekstra besar.

Dapat juga dilakukan pencetakan pada rongga mata dengan bahan khusus kemudian dibuat prothesa, dengan cara ini prothesa akan menjadi sangat mirip dengan mata aslinya, Namun demikian ahli prothesa ( ocularis ) semacam ini sangat jarang dan hanya ada di kota besar .

Pada mata, prothesa digunakan untuk menggantikan bola mata yang telah rusak/mengecil. Pengecilan bola mata ini dapat terjadi akibat kelainan yang didapat sejak lahir/cacat bawaan,karena suatu infeksi hebat pada mata yang menyebabkan pengecilan bola mata pada penyembuhannya atau akibat suatu infeksi/trauma/kecelakaan hebat pada mata sehingga isi bola mata harus dibuang.
Akibat dari
bola mata yang mengecil maka kelopak mata akan menutup dan apabila hal ini dibiarkan sejak kecil maka rongga bola mata tidak akan terbentuk sempurna sehingga memerlukan tindakan operasi plastik untuk pemasangan prothesa.
Bola mata yang mengecil tersebut juga akan menyebabkan gangguan psikologis pada seseorang berupa perasaan rendah diri karena secara kosmetik kurang baik dipandang.

Pemasangan prothesa mata dapat dilakukan dengan mudah apabila bentuk rongga mata masih baik dan kelopak mata terutama bagian bawah masih dapat menyangga dengan baik/tidak kendur. Apabila bentuk rongga mata terlalu dalam atau dangkal, perlu dilakukan operasi dengan memasukkan lemak atau conformer untuk membentuk rongga mata, atau membentuk kembali dengan melakukan pembuangan sebagian rongga mata.

Bagi seorang pemula, mungkin akan sulit pada awalnya seperti memasang dan membuka lensa kontak, namun akan terbiasa dengan sendirinya.Namun berdasarkan pengalaman, tidak di buka/pasang juga tidak berakibat apa-apa.

Pada umumnya kita memberikan prothesa mata dengan ukuran yang lebih kecil dahulu untuk membiasakan diri/membuka rongga mata secara perlahan-lahan. Secara bertahap prothesa akan diganti dengan yang lebih besar/sesuai dengan mata satunya sehingga secara kosmetik akan terlihat lebih baik.

Perlu penjelasan pada pasien bahwa prothesa hanya untuk tujuan kosmetik, tidak dapat untuk melihat dan tidak dapat persis sama dengan mata aslinya agar pasien tidak kecewa dikemudian hari.

Sebelum pemasangan prothesa :

Setelah pemasangan prothesa :

NY. S, 59 th, dilakukan pemasangan prothesa di Bogor bulan Oktober 2007

Sebelum operasi :


3 hari setelah operasi :

Pemasangan prothesa 12 hari setelah operasi :

Tn S, 41 thn, dilakukan operasi dan pemasangan prothesa di Bogor bulan September 2007

Setelah pemasangan :




sebelum pemasangan : Nn N, 22 th, dilakukan pemasangan prothesa di Bogor bulan Desember 2006.

Sebelum pemasangan : Setelah pemasangan :



























Nn N, 20 th, Bogor,dilakukan pemasangan dan penggantian prothesa antara bulan Februari 2008 - Agustus 2008.
Hidajat N Iksan, Bogor Medical Center dan RS Karya Bhakti Bogor